Dinas Perpustakaan & Arsip Daerah Madina Di Demo Mahasiswa GMPM

GMPM saat menggelar aksi demo di Dinas Perpustakaan Mandailing Natal, Selasa (01/03/22). (Foto:SNP)

bbnewsmadina.com, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Khairunnida,SP.d, MM berlagak seperti preman ketika di demo mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Dan Pemuda Mandailing Natal (GMPM), Selasa (1/3/2022).

Khairunida yang di demo mahasiswa tersebut mengatakan tidak gentar dan takut, karena menurutnya tidak ada yang bisa dan berhak memeriksanya selain Bupati dan inspektorat,

“Semua yang kalian orasikan itu tidak ada benarnya karena tidak sesuai fakta,dan perlu kalian ingat, yang berhak memeriksa saya itu bukan adek adek mahasiswa, tapi inspektorat dan Bupati, jadi terima kasih buat kalian yang sok tau dan perasaan sok tau semua apa yang dikucurkan pemerintah kepada perpustakaan ini,” ucapnya

Khairunida juga melarang mahasiswa untuk masuk ke ruangan perpustakaan dengan alasan tidak ada kepentingan, ” jangan kalian masuk, kalian tidak punya hak disini, yang berhak masuk untuk memeriksa hanya inspektorat,”ucap Khairunnida dengan nada emosi.

Tidak hanya itu Khairunnida tambah kelihatan emosi dan mengatakan “Diam kau” ketika mahasiswa menanyakan perihal kemana anggaran belanja buku selama tahun 2021 kemarin.

Sementara Ahmad Hidayat Batubara selaku Ketua GMPM mengatakan “Kami sangat kecewa terhadap sikap Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Madina karena tidak seharusnya seorang Kadis bersikap seperti preman,

“Seharusnya dia sebagai kadis harus menjadi contoh kepada bawahannya, bukan malah sebaliknya belagak seperti preman yang dinilai kurang mempunyai etika dalam menerima tamu,”kesal Ahmad

Ahmad juga menambahkan jika mereka dari mahasiswa dan masyarakat tentu berhak menyampaikan aspirasi dan mempertanyakan terkait dugaan penyelewengan pengadaan buku yang bersumber dari APBD dan APBDP tahun 2020 dan 2021 tersebut.

Dalam aksi itu GMPM menuntut APH untuk tidak tinggal diam menanggapi persoalan yang di sampaikan mahasiswa dan meminta kepada Bupati untuk mengevaluasi kinerja serta mencopot Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Madina.

Rizki Ahmad Fauzi Nst selaku korlap mengatakan “Kalau lah kemudian Kadis perpustakaan mengklaim dirinya tidak bersalah lantas kenapa harus takut menjumpai mahasiswa, kok malah ngawur dalam menanggapi seperti layaknya preman bahkan sempat hampir main siku kepada 2 orang teman kami namun di halangi, seharusnya bijaksana dong dalam menghadapi Rakyat.”

“Dan apabila masalah ini tidak di selesaikan maka kami akan tetap terus turun ke jalan menyuarakan aspirasi kami,” ujarnya.

Akhirnya setelah selesai berdebat mulut dengan kadis Perpustakaan, akhirnya para mahasiswa kemudian melanjutkan aksi ke kantor Bupati Mandailing Natal dan di terima dengan baik oleh asisten III pemkab Madina Sahnan Batubara, MM.

“Aspirasi adek adek dari mahasiswa GMPM akan di sampaikan kepada Bupati dan Wakil serta Inspektorat Madina,” ucap Asisten.

Adapun beberapa tuntutan Aksi GMPM yaitu:

1.Meminta kepada Bupati Mandailing Natal untuk segera mencopot dan membekukan Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Mandailing Natal terkait dugaan korupsi anggaran pengadaan buku pada tahun 2020 dan 2021.

2.Meminta kepada Inspektur Mandailing Natal untuk segera memeriksa Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Mandailing Natal terkait dugaan korupsi pengadaan buku yang bersumber dari APBD dan APBDP pada tahun 2020 dan 2021 jika di total kurang lebih 600 juta.

3.Meminta kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Mandailing Natal untuk segera mengundurkan diri dari jabatan nya karena kami duga tidak profesional dalam menjalankan tugasnya. (SNP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *