MUSEUM HUTASIANTAR

bbnewsmadina.com, Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Sumatera Utara kembali menguatkan konsep rencana pendirian Museum Bagas Godang Hutasiantar, Kabupaten Mandailing Natal.

Gagasan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Dinas Pariwisata dan Budaya Provsu di Mandailing Natal pada bulan Juli lalu. Dalam kunjungan tersebut disetujui untuk rencana mendirikan museum di bekas bekas Kerajaan Nasution Hutasiantar.

Karena itu, Dinas Pariwisata dan Budaya Provsu langsung menyusun konsep dan rancang bangunannya. Konsep itulah yang dibawa kembali ke Mandailing Natal untuk mendapat persetujuan dari ahli waris.

Kamis (8/11), Dinas Pariwisata dan Budaya Provsu kembali mengundang ahli waris yang diwakili oleh Patuan Mandailing Hutasiantar. Rapat yang berlangsung sederhana di Hotel Rindang itu juga dihadiri Dinas Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal, yang diwakili oleh Kasi Sejarah dan Tradisi Bidang Kebudayaan.

Selain itu, pertemuan tersebut juga dihadiri Ludfan Nasution, anggota DPRD Mandailing Natal. Undangan lainnya adalah Askolani Nasution, mewakili praktisi budaya. Dari Dinas Pariwisata dan Budaya Provsu, selain dihadiri Ibu Misnah, juga didampingi Lukas, arkeolog senior Sumatera Utara.

Sebagai peneliti senior, Lukas menjelaskan pentingnya mendirikan museum ini. Selain sebagai ruang pamer budaya Mandailing, tentu diharapkan kelak akan menjadi kunjungan wisata. Apalagi kawasan Hutasiantar juga memiliki situs Padang Mardia. Tentu semua tak lepas dari dukungan Dinas Pendidikan Mandailing Natal.

Lukas membandingkan, salah satu cara untuk menguatkan wisata budaya lokal, harus ada himbauan agar anak-anak sekolah jenjang Sekolah Dasar untuk melakukan kunjungan wisata di daerah sendiri, jangan ke luar daerah, tandasnya.

Sementara itu Ludfan Nasution dalam pertemuan tersebut menyampaikan, pentingnya sebuah perda tentang penguatan kebudayaan ini. Karena pewarisan nilai budaya Mandailing Natal harus dilakukan segenap komponen, bukan hanya oleh praktisi seni budaya saja. Dukungan penguatan itu seharusnya juga muncul secara signifikan melalui Pemerintah Daerah dan DPRD, pungkasnya.

Sedangkan Patuan Mandailing tentu sangat berharap agar rencana ini bisa terwujud. Menurut beliau, museum ini akan menjadi wadah mempublikasikan sejarah Nasution Hutasiantar yang menyebar ke seluruh Mandailing.

Ditambahkannya, perlu kembali meluruskan berbagai persoalan sejarah Mandailing yang selama ini simpang-siur, ujarnya.

Selain itu, Askolani Nasution mengungkap catatan-catatan arkeolog Daniel Perret yang terbit di Prancis.“Saya diberikan fakta-fakta penting situs sejarah di Mandailing yang belum terungkap,” katanya.

Lanjut Askolani, termasuk peradaban sekitar Aek Mata pada koordinat E 990 340 230 N 000 510 390. Apalagi situs Padang Mardia yang memiliki artepak masa Hindu Budha. Dengan sebuah museum plus situs arkeologi, sepatutnya kawasan ini bisa menjadi destinasi wisata yang penting.

“Dan itu belum termasuk situs Lompatan Harimau dan Saba Pulo yang sama sekali belum dikenal di Mandailing Natal,” lukasnya.

Ibu Misnah dari Dinas Pariwisata dan Budaya Provsu menyatakan bahwa rencana ini merupakan cita-citanya.

“Setidaknya, sebelum saya pensiun, saya bisa meninggalkan jejak yang berharga,” katanya.

Karena itu beliau sudah empat kali ke Mandailing Natal untuk rencana ini. (as/dv)

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *