
bbnewsmadina.com, – Medan, Masalah sampah yang menggenang di saluran drainase bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan dan keselamatan warga. Di Lingkungan Padang Bulan Selayang II, genangan air kerap terjadi saat hujan deras akibat tumpukan sampah yang menyumbat aliran. Kondisi ini berpotensi memicu banjir lokal, mempercepat kerusakan infrastruktur, serta meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan.
Menanggapi permasalahan tersebut, lima dosen dari Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Medan turun langsung melalui program Pengabdian Mandiri kepada Masyarakat (PMKM). Tim ini terdiri dari Nurkhasanah Rina Puspita, S.T., M.Sc., Muhammad Rizky Harahap, S.T., M.T., Soraya Muthma Innah Nasution, S.T., M.T., dan Rizky Franchitika, S.T., M.Eng. Mereka menghadirkan solusi konkret berbasis rekayasa sederhana yang aplikatif dan mudah diterapkan oleh masyarakat, Medan (4 Juni 2025).
Berdasarkan hasil survei lapangan, drainase di Jalan Bunga Wijaya Kesuma kerap tersumbat oleh sampah plastik dan material organik. Minimnya edukasi serta kebiasaan membuang sampah sembarangan memperparah kondisi tersebut dan menciptakan siklus penyumbatan yang terus berulang.
Sebagai langkah penanganan, tim dosen merancang dan memasang alat penangkap sampah sederhana berbahan besi bekas pakai pada titik-titik strategis drainase. Alat ini berfungsi menyaring sampah sebelum masuk ke saluran utama, sehingga memudahkan proses pembersihan dan mencegah penyumbatan di bagian hilir.

Nurkhasanah Rina Puspita menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat. “Kami ingin menghadirkan solusi yang sederhana namun berdampak jangka panjang. Alat ini hanyalah pemicu. Yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran warga untuk menjaga kebersihan drainase secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konsep teknologi tepat guna dipilih agar inovasi ini dapat direplikasi dengan mudah di lingkungan lain.
“Dengan biaya yang relatif terjangkau dan bahan yang mudah diperoleh, kami berharap model ini bisa diterapkan di kawasan permukiman lain yang menghadapi persoalan serupa,” tambahnya.
Program ini juga disertai sosialisasi dan pelatihan kepada warga mengenai cara perawatan alat serta pentingnya pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Edukasi dilakukan secara partisipatif agar masyarakat memiliki rasa tanggung jawab terhadap keberlanjutan program.
Hasil monitoring pasca pemasangan menunjukkan perkembangan positif. Volume sampah yang menyumbat berkurang, aliran air menjadi lebih lancar, dan kesadaran warga meningkat. Dukungan masyarakat pun semakin kuat setelah merasakan manfaat langsung dari inovasi tersebut.
Peran Kepala Lingkungan sebagai mitra lokal turut menjadi kunci keberhasilan program. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat ini membuktikan bahwa solusi tidak selalu harus mahal dan kompleks. Dengan pendekatan ilmiah dan kepedulian sosial, tim dosen Politeknik Negeri Medan mampu menghadirkan perubahan nyata di tingkat lingkungan.
Inisiatif ini menjadi contoh bahwa inovasi sederhana dapat memberikan dampak besar. Menjaga kebersihan drainase adalah tanggung jawab bersama, dan langkah kecil seperti ini layak direplikasi di berbagai wilayah lainnya demi terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (FN)