
bbnewsmadina.com – Padangsidimpuan – Program Makan Bergizi Gratis ) MBG memberikan dampak negatif terhadap pedagang pasar tradisional di Kota Padangsidimpuan, seperti penurunan omzet penjualan, sepinya pembeli, juga kenaikan harga bahan pangan akibat pasokan yang terganggu dan pembelian besar oleh program MBG secara langsung dari pemasok . Hal ini menyebabkan pedagang pasar tradisional kesulitan bersaing dan menutupi biaya operasional.
Salah satu pedagang pasar tradisional di Kota Padangsidimpuàn bermarga Matondang, mengeluhkan bahwa kebutuhan cabai kesehariannya di Kota Padangsidimpuan sekitar 5 ton per hari. Dengan adanya program MBG ini meningkat menjadi 7 ton per hari sehingga cabai langka mengakibatkan kenaikan harga cabai yang signifikan di sekitaran Rp.80.000/ kg, padahal harga dari petani masih tetap harga yang lama Rp.40.000.
“Penurunan omzet penjualan juga diakibatkan pihak MBG belanja ke Pedagang besar atau toke. untuk belanja Ayam mereka pihak MBG bukan belanja ke pasar Tradisional namun belanja ke Pokphand. Pokphand ini adalah perusahaan besar yang cara pemesanannya melalui DO dan perlu diketahui, Pokphand ini adalah perusahaan besar yang berasal dari Thailand,” ujarnya kepada Media, Rabu (29/10/25).
Kemudian dia melanjutkan, untuk buah seperti pisang bukan dari Kota Padangsidimpuan, pihak MBG membeli dari luar daerah yakni Porsea. Begitu juga dengan Ikan mas, mereka langsung pesan dari Sumatera Barat daerah Panti.
”Sementara pembeli atau ibu ibu warga Kota Padangsidimpuan tidak belanja lagi ke pasar Tradisional karena anaknya nanti pada siang hari sudah ada disediakan MBG menyebabkan para pedagang tradisional di sekitaran Kota Padangsidimpuan mengeluh dengan sepinya pembeli,” ungkapnya.
”Program MBG ini bukan untuk memperluas lapangan pekerjaan bagi kami pedagang kecil ini namun mempersempit ekonomi kami pedagang kecil. Padahal jelas tertuang pada (SOP) Standar Operasional Prosedur MBG harus bekerja sama dengan UMKM ( Usaha Mikro Kecil Menengah),” tutur Matondang. (Ty)