Apa Kabar Gua Batu Pastap? ‎(Menatap Panggung Nasional 2027)

 

Apa Kabar Gua Batu Pastap?

‎(Menatap Panggung Nasional 2027)

‎Penulis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

bbnewsmadina.com, – Mandailing Natal, Ada tempat yang tidak perlu banyak bicara untuk membuat kita ingin datang. Gua Batu Pastap salah satunya.

‎Ia diam di antara bentang alam Pastap Julu. Batu-batunya menyimpan cerita. Hutan di sekelilingnya menyimpan kehidupan. Dan tak jauh dari sana, Aek Mais mengalir, meliuk di antara batu, pepohonan dan kampung, seperti tidak pernah kehabisan cerita untuk dibawa ke hilir.

‎Tetapi, tunggu sebentar.

‎Apa kabar Gua Batu Pastap sekarang?

‎Pertanyaan ini bukan karena guanya menghilang. Bukan pula karena Pastap kehilangan pesonanya.

‎Justru sebaliknya.

‎Pastap masih memiliki hampir semua bahan yang membuat sebuah desa layak disebut destinasi: gua, sungai, hutan, trekking, river tubing, budaya, kuliner, produk masyarakat, homestay dan kehidupan desa yang belum kehilangan keasliannya.

‎Bahkan kita pernah punya alasan untuk bangga. Pada 2021, Desa Wisata Pastap Julu masuk 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia, dari ribuan desa yang mengikuti ajang nasional tersebut.

Lalu?

‎Di sinilah pertanyaan itu kembali mengalir. Apa yang terjadi setelah tepuk tangan itu reda?

Sebab sebuah desa wisata tidak boleh hidup hanya ketika mengikuti lomba. Ia harus hidup ketika kamera pergi. Harus bergerak ketika pejabat pulang. Harus tetap dikunjungi ketika spanduk penghargaan sudah diturunkan.

‎Pastap, menurut saya, tidak kekurangan pesona.

Pastap membutuhkan geliat.

‎Manto dan Memori Sambung

‎Pastap pernah memiliki figur yang berada cukup dekat dengan fase penting kelahiran dan pengembangan ekowisatanya: Manto Lubis, mantan Kepala Desa Pastap Julu.

‎Manto tidak harus kembali menjadi kepala desa. Bukan itu soalnya.

‎Yang kita butuhkan adalah pengalaman. Memori yang dapat menyambungkan kondisi aktualnya dengan tuntutan standar panggung 2027.

‎Orang-orang yang pernah membuka jalan, mengenal medan, membangun jaringan, memahami karakter masyarakat dan tahu bagaimana Pastap dahulu mulai diperkenalkan kepada dunia, jangan buru-buru dianggap sebagai masa lalu.

‎Tokoh lama tidak harus kembali memegang jabatan. Tetapi pengalaman lama bisa kembali menjadi energi baru.

Mengapa tidak mempertemukan kembali Manto Lubis dengan generasi pengelola sekarang?

‎Bukan untuk bernostalgia.

‎Tetapi untuk bertanya: apa yang dulu berhasil, apa yang terhenti, apa yang harus diperbaiki, dan apa yang harus dimulai lagi?

Kawasan yang Merangkul. 

‎Ada satu hal lain yang layak kita pikirkan. Mengapa Pastap Julu harus berjalan sendiri? Di sebelahnya ada juga Pastap Jae dengan pesona yang cukup menohok.

‎Sisi Julu memiliki Gua Batu, hutan, Aek Mais, trekking dan pengalaman ekowisata. Dan, sisi Jae memiliki sungai, bentang pertanian, agro, kehidupan masyarakat dan pengalaman desa yang berbeda. Mengapa keduanya tidak dirajut menjadi satu kawasan untuk satu pengalaman wisata Pastap?

‎Wisatawan tidak perlu datang hanya untuk melihat gua. Ia bisa datang untuk mengalami Pastap secara lebih utuh.

Menyusuri sungai. Menjelajah alam. Masuk ke gua. Menikmati makanan kampung. Melihat kebun dan sawah. Mengenal budaya. Bermalam di rumah warga.

‎Dari objek wisata menjadi pengalaman wisata. Dari dua desa menjadi satu cerita. Dari kunjungan sesaat menjadi alasan untuk tinggal lebih lama.

‎Pastap Julu dan Pastap Jae tidak perlu saling berebut pengunjung.

‎Mereka justru bisa saling menguatkan.

Pastap: Pintu Timur TNBG

‎Di sinilah kita perlu melihat Pastap dengan perspektif yang lebih besar.

‎Pastap jangan dipromosikan hanya sebagai tempat yang memiliki Gua Batu.

‎Ia punya posisi yang jauh lebih strategis: pintu masuk untuk mengenal dan menikmati alam sisi timur Taman Nasional Batang Gadis.

‎‎Bayangkan seorang wisatawan datang ke Pastap. Ia tidak hanya diberi pilihan, “Mau melihat gua?”

Tetapi ditawarkan sebuah perjalanan:

‎Pastap → Aek Mais → hutan → bentang alam TNBG → flora dan fauna → kehidupan masyarakat di tepian kawasan konservasi.

‎Tentu semuanya melalui jalur, zona dan tata kelola yang diperbolehkan TNBG.

‎Dengan konsep seperti itu, TNBG bukan sekadar latar belakang Pastap.

‎TNBG menjadi bagian dari cerita besarnya.

‎Pastap dapat menjadi gerbang pengalaman—tempat wisatawan berangkat untuk mengenal kekayaan alam sisi timur TNBG, dengan masyarakat lokal sebagai tuan rumah dan konservasi sebagai prinsipnya.

‎Ranger tidak sekadar penjaga.

‎Mereka menjadi pemandu dan pencerita hutan. Masyarakat bukan sekadar penerima tamu.

‎Mereka adalah pemilik pengalaman.

‎Gua bukan sekadar tempat berfoto.

‎Ia menjadi pintu masuk untuk membaca hubungan manusia, alam dan sejarah.

‎Karena itu, Dinas Pariwisata Madina, TNBG, pemerintah desa dan Pokdarwis perlu duduk bersama.

‎Bukan sekadar membicarakan promosi.

‎Tetapi merancang produk pengalaman yang benar-benar bisa dijual, dinikmati dan memberi manfaat kepada masyarakat tanpa mengorbankan konservasi.

Menatap 2027.

‎Mengapa tidak kita pasang target?

‎Pastap kembali ke panggung nasional pada 2027.

‎Bukan sekadar mengejar piala atau predikat. Momentum nasional harus menjadi alasan untuk membenahi sesuatu yang lebih penting: ekosistem wisata masyarakat. Lima tahun lalu Pastap sudah mengetuk pintu nasional. Sekarang waktunya mengetuk lebih keras.

‎Bukan dengan cerita lama.

‎Tetapi dengan cerita baru:

‎Pastap Jae–Julu sebagai satu kawasan pengalaman wisata, dengan Pastap sebagai pintu pengalaman alam sisi timur TNBG.

‎Gua Batu. Aek Mais. Hutan.

‎Aliran Sungai Aek Mais yang sudah melegenda dan khasanah agrowisata.

‎Pastap juga mampu menghadirkan nuansa budaya Mandailing dengan tatanan masyarakat yang sangat alami.

‎Dari Pastap juga kita bisa memasuki gerbang timur TNBG.

‎Karena itu, Pastap sebenarnya punya modal lebih. Yakni:

‎Modal alamnya sudah diberikan Tuhan. Yang sering kurang hanyalah bagaimana manusia mengorganisasikan karunia itu menjadi kemaslahatan.

‎Mungkin karena itu, pertanyaan “Apa Kabar Gua Batu Pastap?” sesungguhnya bukan hanya pertanyaan tentang sebuah gua.

‎Itu adalah pertanyaan kepada kita semua:

Apakah kita masih cukup serius merawat sesuatu yang pernah membuat nama Madina diperhitungkan di panggung nasional?

‎Aek Mais terus mengalir. Batu-batu tetap diam. Hutan tetap tumbuh. Maka, barangkali sekarang giliran masyarakatnya yang menari gemulai dan bergerak gesit. (LN)

Author

  • bbnewsmadina

    BBNews Madina menyajikan informasi terkini tentang BERITA TABAGSEL - MADINA - PADANGSIDIMPUAN - PALUTA - PALAS, Dan Seputar Sumut, Mencerdaskan dan Menyuarakan Aspirasi Masyarakat Dalihan Natolu

  • Jurnalis BBNews Madina meliput wilayah Kabupaten Mandailing Natal

Tinggalkan Balasan