bbnewsmadina.com, Saat ini, sepertinya kata bencana sudah begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Mulai dari tsunami, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, kebakaran, banjir, dan lain-lain. Bahkan, bagi sebagian masyarakat Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) bencana –seperti banjir dan tanah longsor merupakan sebuah hal yang sudah biasa dilalui.
Ahmad Fauzan Hasibuan, S.Sos, M.Si Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan Pemuda Tani Indonesia (PTI) Sumut menanggapi bencana menyampaikan, sebagian bencana ada yang memang karena faktor alam seperti Tsunami, Gempa bumi, gunung meletus. Sebagian lagi bencana disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh faktor manusia seperti tanah longsor dan banjir.
“Setelah kita melihat dan mendengarkan terjadinya banjir hampir diseluruh daerah dimana faktor yang utama dalam bencana banjir ini adalah tingginya curah hujan sehingga mengakibatkan pemukiman masyarakat tergenangi air, malah diberbagai daerah menimbulkan korban jiwa. Selain dari curah hujan yang tinggi kita perlu juga mengetahui apakah ada faktor lain yang menyebabkan terjadinya banjir seperti adanya peralihan hutan ataupun perambahan hutan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, dan aktivitas masyarakat sepanjang sepadansungai,” ujar putra daerah.
Tentu saja pemerintah tidak bisa langsung disalahkan dalam hal ini, karena bencana alam memang bukan kemauan pemerintah. Selain itu sikap sebagian masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan turut andil dalam terjadinya bencana. Namun, menurut Fauzan memang sebagian bencana yang menimpa daerah Madina misalnya, adalah dampak tidak langsung dari kurangnya pengawasan dan ketegasan pemerintah dalam hal analisa mengenai dampak lingkungan.
“Dengan terjadinya bencana banjir hari ini tidak ada yang patut kita salahkan, kecuali diri kita sendiri, baik pemangku kepentingan maupun masyarakat luas, karena terjadinya banjir ini juga adalah tidak terlepas dari apa yang sedang kita lakukan di tengah – tengah masyarakat. Marilah kita berbenah dengan terjadinya banjir dan kita lebih baik membuat suatu tindakan penghijaun dilokasi hutan yang kita anggap sudah rusak dan juga kita memohon kepada pemangku kepentingan agar kiranya menata ulang perkotaan dan pedesaan,” pintanya.
Dalam hal mengantisipasi kekhawatiran banjir kedepannya memakan korban yang lebih banyak lagi, Fauzan berharap kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar berkordinasi dengan instansi terkait, kiranya sebelum terjadinya banjir bisa memperediksi tentang terjadinya bencana banjir pada khususnya, kapan akan terjadi naiknya debit air sungai, apakah jika terjadinya kenaikan debit air fasilitas yang tersedia dapat menampungnya, dan apakah pemukiman masyarakat aman dengan kenaikan debit air.
Maka dari itu untuk mengatasi bencana butuh kontribusi dari semua pihak agar bencana tidak lagi menjadi sesuatu hal yang biasa. Peran pemerintah dan masyarakat dalam menangani bencana sama-sama penting.”Mari kita peduli lingkungan karena lingkungan kita menjanjikan kehidupan masa yang akan datang,” ajak Ketua OKK PTI Sumut.
Penajaman solusi katanya sangat penting, seperti tindakan konkrit penataan kawasan hutan dan rehabilitasi bibir sungai melalui gerakan reboisasi. Perbaikan pasca bencana harus dibarengi dengan keseriusan upaya antisipasi terhadap bencana berikutnya. (Zein Nasution)

