Makanan “Bergizi” Gratis Berulat Disajikan ke Siswa, Sekolah Menolak, Penanggung Jawab Bungkam

MBG di Sekolah SMK Negeri 3 berulat. (Foto:BN)

bbnewsmadina.com, – Mandailing Natal, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas untuk meningkatkan asupan nutrisi pelajar kini justru tersandung persoalan serius. Temuan ulat dalam makanan yang dibagikan kepada siswa memicu kritik tajam serta menimbulkan kekhawatiran terhadap standar kebersihan dan kelayakan konsumsi dalam pelaksanaannya.

Insiden ini terjadi pada penyaluran makanan kepada siswa SMK Negeri 3 Panyabungan, yang merupakan salah satu penerima manfaat program tersebut. Berdasarkan dokumentasi yang beredar, terlihat adanya ulat pada sisa makanan di wadah makan siswa (28/4). Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai proses pengolahan dan distribusi makanan yang seharusnya memenuhi standar higienitas.

Makanan tersebut diketahui diproduksi dari dapur MBG yang berlokasi di Desa Panggorengan, Gunung Tua, Panyabungan. Dugaan sementara mengarah pada kelalaian dalam pengolahan, penyimpanan, atau distribusi bahan makanan, yang membuka kemungkinan terjadinya kontaminasi. Minimnya pengawasan terhadap kualitas bahan dan kebersihan dapur termasuk IPAL menjadi sorotan utama dalam kasus ini.

Menanggapi temuan tersebut, pihak sekolah SMK Negeri 3 Panyabungan dikabarkan mengambil sikap tegas dengan menolak pelaksanaan program MBG dalam kondisi saat ini. Penolakan ini didasari kekhawatiran terhadap kesehatan siswa, mengingat makanan yang disajikan dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.

Di tengah meningkatnya sorotan publik, sikap kepala SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas program ini justru menjadi perhatian. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi yang disampaikan, sehingga memunculkan kesan arogan serta kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan program.

Peristiwa ini menjadi ironi bagi sebuah program yang bertujuan mulia. Ketika kualitas dan kebersihan makanan tidak terjamin, tujuan untuk meningkatkan gizi justru berpotensi berubah menjadi ancaman bagi kesehatan. Kepercayaan masyarakat terhadap program pun ikut tergerus akibat lemahnya pengawasan dan respons yang tidak memadai.

Kejadian ini menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG. Peningkatan standar higienitas, pengawasan ketat, serta keterbukaan informasi menjadi langkah mendesak yang harus dilakukan. Tanpa perbaikan yang serius, program ini berisiko kehilangan esensi utamanya sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan generasi muda. (BN)

Tinggalkan Balasan