
BBNewsmadina.com – Mandailing Natal, Sumatera Utara
Pasca mencuatnya sorotan publik terkait sanitasi dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mandailing Natal, pihak pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) khususnya SPPG Pidoli Lombang, dikabarkan mulai melakukan evaluasi internal dan menjanjikan sejumlah perbaikan fasilitas operasional dapur.
Perkembangan tersebut muncul setelah sebelumnya publik menyoroti sejumlah persoalan sanitasi pada dapur MBG di Mandailing Natal, mulai dari praktik pencucian ompreng di area terbuka, sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga kondisi ruang packing makanan yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih serius.
Sorotan publik semakin berkembang setelah beredarnya dokumentasi dari dua dapur berbeda yang memperlihatkan penanganan ompreng dilakukan di area terbuka dengan fasilitas sanitasi yang dinilai belum memadai.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan masyarakat mengenai konsistensi penerapan standar higienitas dan pengawasan dapur operasional MBG di daerah.
Dalam perkembangan terbaru, Kepala SPPG Pidoli Lombang, berinisial CWL disebut telah melakukan pertemuan dengan media dan menyampaikan komitmen untuk melakukan pembenahan fasilitas serta evaluasi prosedur kerja di dapur MBG yang dikelola bersama mitra yayasan “Sudena Gandeng Tangan” Selasa (19/05).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, CWL menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang berkembang di tengah masyarakat terkait persoalan sanitasi dapur MBG. Ia juga sempat menunjukkan sertifikat SLHS nomor : 800/2389/Dinkes/2026. dan berjanji akan memberikan penekanan kepada pihak mitra dan yayasan agar fasilitas sanitasi diperbaiki serta prosedur operasional dapur disesuaikan dengan petunjuk teknis dan standar higiene sanitasi yang berlaku.

Terkait adanya uang yang beredar dalam pemberitaan sebelumnya, hal tersebut tidak dimaksudkan untuk menghentikan kritik publik maupun membungkam pemberitaan. Fokus utama saat ini adalah pembenahan fasilitas dan penyesuaian prosedur kerja agar sesuai standar.” tegasnya.
Beberapa poin yang disebut menjadi perhatian evaluasi di antaranya terkait area pencucian ompreng, pengelolaan limbah dapur, hingga mekanisme kerja pada ruang packing makanan.
Perkembangan tersebut dinilai menjadi langkah awal yang positif di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap keamanan pangan dalam Program MBG.
Masyarakat berharap evaluasi yang dijanjikan tidak berhenti pada pernyataan semata, melainkan benar-benar diwujudkan melalui pembenahan fasilitas dan pengawasan yang lebih ketat di lapangan.
Di sisi lain, pengawasan publik terhadap pelaksanaan Program MBG dinilai tetap penting agar standar sanitasi dan kualitas pelayanan dapur operasional benar-benar diterapkan secara konsisten. Terlebih, program tersebut berkaitan langsung dengan kesehatan dan keamanan pangan bagi siswa penerima manfaat.
Sorotan terhadap sanitasi dapur MBG sendiri sebelumnya menjadi perhatian setelah muncul kekhawatiran publik mengenai potensi risiko kontaminasi apabila penanganan perlengkapan makan dan pengelolaan dapur tidak dilakukan sesuai standar higiene sanitasi yang semestinya.
Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu realisasi konkret dari komitmen evaluasi dan perbaikan fasilitas yang telah disampaikan pihak pengelola dapur MBG di Kabupaten Mandailing Natal. (BMP)